Sunday, November 26, 2017

DEM Interferometri Menggunakan ALOS PALSAR Data

Setelah minggu lalu mencoba interferometri dengan Sentinel 1 dan ESA SNAP, minggu ini saya mencoba kembali percobaan interferometri untuk memperoleh DEM, tetapi menggunakan data ALOS PALSAR dan ENVI SARSCAPE. Percobaan saya lakukan dua kali, pertama menggunakan pasangan data ALOS PALSAR Level 1.1 FBS (Fine Beam Single) SLC, dan percobaan kedua menggunakan ALOS PALSAR Level 1.0 FBD (Fine Beam Double) RAW. Untuk pasangan data pertama selisih temporalnya cukup panjang, hampir 10 bulan, sementara untuk percobaan kedua selisih temporalnya lebih singkat, hanya 46 hari.

Tahapan pemrosesan yang dilakukan di Percobaan pertama meliputi:
1. Data Import (Sarscape>Import Data>SAR Spaceborne>ALOS PALSAR)
2. Simulated Orbit Correction menggunakan DEM(Sarscape>General Tools>Orbit Correction>automatic Orbit Correction). DEM yang dipakai adalah SRTM90
3. Interferogram Generation (Sarscape>interferometry>Phase Processing>Interferometry Workflow>Interferogram Generation)
4. Refinement dan Reflattening menggunakan 7 GCP (Sarscpae>Interferometry>Phase Processing>Interferometry Workflow>Refinement and Reflattening)
5. Phase to Height Conversion and Geocoding (Sarscape>interferometry>phase Processing>inferferometry Workflow>Phase to Height Conversion and Geocoding).

Orbit correction dilakukan karena data PALSAR Level 1.1 sudah tidak memiliki informasi orbit precise, jadi harus disimulasikan parameternya.

Hasil yang diperoleh DEM nya cukup bagus, hanya terdapat artifacts




Saya tidak tahu dari mana artifact ini muncul. Dugaan saya adalah karena orbit parameternya adalah hasil simulasi. Bukan data orbit precise asli dari satelit.

Kemudian percobaan kedua saya lakukan menggunakan data RAW Level 1.0 dengan temporal resolution yang lebih singkat. Saya mendapat informasi bahwa data orbit precise PALSAR tersimpan di metadata dari data Level 1.0, jadi menarik untuk dicoba.

Proses yang dilakukan untuk data level 1.0 sebagai berikut:

1. Focusing (Sarscape > Focusing > PALSAR > JAXA Palsar Single Pol), dengan polarisasi yang dipilih adalah HH, karena backscatternya lebih konsisten (koherensi lebih bagus).
2. Interferogram Generation (Sarscape>interferometry>Phase Processing>Interferometry Workflow>Interferogram Generation)
3. Refinement dan Reflattening menggunakan 7 GCP (Sarscpae>Interferometry>Phase Processing>Interferometry Workflow>Refinement and Reflattening)
4. Phase to Height Conversion and Geocoding (Sarscape>interferometry>phase Processing>inferferometry Workflow>Phase to Height Conversion and Geocoding). DEM yang dipakai adalah SRTM90.

Hasil yang diperoleh lebih baik (dari sisi artifacts yang muncul) dari percobaan pertama, hanya artifactnya masih ada, kali ini di sisi atas.


Minor artifact  pada percobaan kedua (mungkin) disebabkan oleh koherensi yang rendah antara dua pasangan citra.
Secara kualitas hasil, DEM pada percobaan pertama lebih baik dari percobaan kedua, walaupun perbedaan temporalnya lebih panjang. Hal ini dikarenakan perpendicular baselinenya lebih jauh, sehingga lebih sensitif dengan perbedaan elevasi.

Jadi. Kesimpulan sementara, Orbit file berpengaruh dan harus dipertimbangkan dalam interferometri. Untuk pengolahan PALSAR di Sarscape, lebih baik dimulai dari data RAW daripada data SLC. Selain itu, balancing antara temporal differences dan perpendicular baseline juga harus dipertimbangkan

Data ALOS Palsar dapat diunduh cuma cuma di ASF VERTEX.